Friday, April 8, 2016

MASYAALLAH, Ade Armando: Al Quran dan Sunnah Adalah Biang Masalah dan Pangkal Bencana,, Baca dan Bantu Sebarkan



Dalam pandangan Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) Ade Armando, Al Qur’an dan Sunnah adalah biang masalah dan pangkal bencana. Al Qur’an dan Hadits tak bisa dijadikan sumber hukum, karena dinilai terbelakang, tidak relevan dengan masa kini dan dalam kacamata modern.

Pandangan pemikiran Ade ini disampaikan dalam Pidato Kebudayaan yang berjudul “Agama Ideal di Masa Depan” di Pisa Kafe Mahakam, Jl. Mahakam I No.11, Jakarta Selatan, Jum’at (1/4/2016) malam.

Ade memberikan contoh hadits-hadits yang dianggap memiliki tingkat keshahihan tinggi, “Rasulullah mengutuk laki-laki yang berpakaian seperti wanita dan berpakaian seperti laki-laki”. Ia juga menertawai hadits yang mengatakan, “Lima Tuntunan Fitrah: khitan, mencukur bulu di sekitar kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, memotong kumis”.

Hadits yang dikritiknya lagi adalah, “Menguap itu dari setan. Maka apabila seseorang di antara kamu menguap, hendaklah ditahannya sedapat mungkin. Sesungguhnya jika seseorang di antara kamu mengatakan ‘ha’ lantaran menguap, tertawalah setan.”

Ade juga protes dengan hadits yang berbunyi, Rasulullah mengutuk pembuat tato dan yang meminta ditato. Kemudian Sabda Rasulullah yang mengatakan, “Neraka diperlihatkan padaku, di sana aku mendapatkan kebanyakan penghuninya adalah wanita yang tidak bersyukur dan tidak berterima kasih kepada suami atas perbuatan baiknya.”

Hadits yang juga ditertawai, “Apabila salah seorang hendak dari kalian sedang shalat, lalu salah satu hendak melewati batas yang ia letakkan, hendaklah ia menghadangnya. Apabila orang itu menolak, hadanglah ia dengan tenaga yang lebih keras.”

Ade juga mempertanyakan sabda Nabi: “Apabila kamu berkata kepada temanmu di hari Jumat, diamlah. Padahal imam sedang berkhutbah, maka sesungguhnya engkaupun salah.” Ade pun terusik dengan hadits, “Apabila suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya, lalu istri enggan, sehingga suami marah pada malam harinya, malaikat melaknat sang istri sampai waktu Subuh.”

Lebih lanjut Ade tidak menerima, “Laki-laki mana saja yang murtad, maka ajaklah dia (kembali pada Islam), jika ia tidak mau kembali pada Islam, maka bunuhlah ia. Perempuan mana saja yang murtad, serulah ia kembali pada Islam, jika mereka tidak mau kembali, maka bunuhlah mereka.”

Dari beberapa hadits tersebut, Ade Armando berkomentar, “Betapa bermasalahnya hadits untuk bisa dipercaya sebagai hukum yang harus ditegakkan. Kalau dilihat dari kacamata metodelogi ilmu pengetahuan modern, memang tidak pada tempatnya lagi hadits dijadikan sebagai hukum Islam saat ini.”

Kata Ade, harus diubat mindset bahwa hadits adalah hukum, karena hadits pada dasarnya memiliki begitu banyak kelemahan. Hadits penting untuk dipelajari sebagai rujukan, sebagai panutan, sebagai panduan, sebagai catatan sejarah. Namun pada saat yang sama, umat Islam harus sadar bahwa proses pembakuan hadits menyebabkan kita seharusnya tidak memandangnya sebagai kebenaran yang tidak terbantahkan.

“Menurunkan derajat hadits dari hukum menjadi panduan atau sekadar ilustrasi sejarah bisa menjadi penting dilakukan karena banyak sekali bentuk kekerasan atau penindasan HAM, anti demokrasi yang saat ini bersumber dari hadits,” ucap Ade lagi.

Hadits Dianggap Irasional

Dikatakan Ade, masalah yang ditimbulkan ketika hadits-hadits semacam itu dipercaya sebagai bagian dari aturan yang harus dipatuhi oleh umat Islam sampai saat ini. Ajaran itu tidak masuk akal dan tak bermanfaat. “Masa sih setan makan dengan tangan kiri.”

Ade memberi contoh, kontroversi LGBT bulan lalu, ketika Tifatul Sembiring menyebarkan hadits
dalam akun twiternya, bahwa Nabi Muhammad memerintahkan umatnya untuk membunuh kaum gay. “Bila hadits semacam ini digunakan sebagai hukum, kita bisa bayangkan betapa tidak beradabnya masyarakat yang terbangun dengan hukum seperti itu.”

Ade mengaku tidak anti sunnah dan hadits. Namun untuk menjadikan Islam sebagai rahmat bagi sekalian alam, hadits tidak bisa dijadikan hukum. Begitu juga al Qur’an adalah hukum yang diterapkan sepanjang masa. Tapi kata Ade, Allah dan Nabi Muhammad sendiri tidak pernah mengatakan begitu.

“Al Quran itu jelas bukan kitab hukum. Kalau Tuhan menurunkannya sebagai kitab hukum, ya bentuknya tidak seperti Al Qur’an yang kita kenal sekarang. Ade mengajarkan Tuhan seperti ini: Tuhan tinggal menulis, kurang lebih: Inilah hal-hal terlarang dan hukuman yang harus diberikan kepada pelanggar hukum. Atau, tulis saja, satu, dilarang membunuh orang. Hukum membunuh orang: jiwa dibalas jiwa. Kedua, membunuh bisa dilakukan kalau untuk mempertahankan diri, Ketiga, yang dimaksud mempertahankan diri adalah….”

Ade berucap, Al Quran tidak ditulis dengan cara seperti itu. “Kalau Tuhan memang ingin Al Quran menjadi kitab hukum, tidak masuk akal mengapa Dia menuntut umat manusia mencari-cari sendiri hukum yang dimaksud di antara ribuan ayat yang ada.”

Al Quran Disebutkan Bukan Kitab Hukum

Ade Armando mengatakan, Al Quran bukan kitab hukum. Sebuah teks adalah produk zamannya. Dia mencerminkan kondisi sosial-politik-budaya-ekonomi zamannya. Begitu umat Islam membaca Al Qur’an sebagai kitab hukum, disitu masalah dimulai. Menjadikan isi Al Qur’an sebagai hukum yang harus ditegakkan sepanjang masa, dianggap keliru.

Keliru, karena kata Ade, ketika itu Tuhan sedang berbicara kepada komunitas barbar di jazirah Arab yang mayoritas penduduknya buta huruf, tidak menghargai intelektualitas, sangat patriarkis, memercayai perang fisik sebagai cara untuk menyelesaikan pertikaian dan memperoleh kekuasaan, memiliki tradisi perbudakan manusia, mengambil pampasan perang dan seterusnya.

Ade memahami Al Quran memuat banyak ayat yang bernada penuh kemarahan dan mengandung semangat peperangan. Sebagai contoh, Ade memuji apa yang dilakukan Paus Fransiskus dengan mencuci kaki pengungsi muslim di Italia. Tindakan Paus itu mencerminkan rasa persaudaraan antar umat manusia.

Ade juga menyinggung keriuhan kontroversi memilih pemimpin kafir di DKI disebabkan cara memandang Al Qur’an sebagai kitab hukum. Para penolak Ahok berkeras bahwa QS Al Maidah yang memerintahkan agar orang beriman tidak mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin.

Ayat Al Qur’an tentang perang, membuat Ade berpandangan bahwa betapa bahayanya menganggap Al Quran berisikan perintah Allah yang harus kita patuhi sepanjang zaman, dimanapun kita berada.

Di akhir pidatonya, Ade menyimpulkan, umat islam di dunia akan terus tumbuh dengan percepatannya. Ade bertanya, “Apakah Islam akan membawa manfaat atau mudharat bagi dunia?”

“Saya percaya, Islam hanya akan bermanfaat bila Islam berhenti menjadi hukum. Sudah tidak saatnya lagi menegakkan syariat Islam. Sudah bukan pada tempatnya mendengar pertanyaan di acara mimbar agama islam, di antaranya pertanyaan seperti: ‘Apa hukumnya sorang muslim pindah agama?'”

Ade berseloroh, “Selama kita percaya dengan hukum Islam, ketika itu pula kita menjadi Islam terbelakang. Dalam pandangan saya, cara terbaik untuk melihat Islam adalah memandang Islam sebagai ideologi, sebagai ide. Sebagai kesatuan gagasan dan keyakinan ideal tentang bagaimana manusia berperan sebagai khalifah di dunia yang akan membawa rahmat bagi sekalian alam.”

Dengan yakin Ade berkeyakinan, “Al Qur’an dan Sunnan diturunkan hanya untuk di zaman Nabi. Hukum Islam hanyalah gagasan. karena itu yang harus dipelajari bukanlah hukumnya, melainkan gagasannya.”

Sumber: http://www.jurnalmuslim.com

Kisah Islami: Belajar Kisah Cinta Ali dan Fatimah

Cahaya Tausiah - Untukmu yang setiap mendengar tentang pernikahan selalu terbayang-bayang dan muncul gejolak ingin menikah.


Menikah memang menjadi penyempurna sepertiga agama kita Islam, namun semudahkah itukah mengatakan ingin menikah? Sudah tau calonmu kelak akan seperti apa? Nah sebelum kita mengatakan siap untuk menikah mari kita belajar sedikit tentang cinta dari kisah Ali bin Abu thalib dan Fatimah Azzahra.



http://zafsazam.mywapblog.com/files/menikah.jpg

Sebuah kisah datang dari putri Rasulullah, Fatimah Az-Zahra, dan Ali Bin Abi Talib. Pintu hati Ali terketuk pertama kali saat Fatimah dengan sigap membasuh dan mengobati luka ayahnya, Muhammad SAW yang luka parah karena berperang.

Dari situ, dia bertekad untuk melamar putri nabi. Lantas dengan tekun dia kumpulkan uang untuk membeli mahar dan mempersunting Fatimah. Malang, belum genap uang Ali untuk membeli mahar, sahabat nabi Abu Bakar sudah terlanjur melamar Fatimah.

Hancur hati Ali, namun dia sadar diri kalau saingan ini punya kualitas iman dan Islam yang jauh lebih tinggi dari dirinya. Walau dikenal sebagai pahlawan Islam yang gagah berani, Ali dikenal miskin. Hidupnya dihabiskan untuk berdakwah di jalan Allah.

Namun mendung seakan sirna saat Ali mendengar Fatimah menolak lamaran Abu Bakar.

Tapi keceriaan Ali kembali sirna saat orang dekat nabi lainnya, Umar Bin Khatab meminang Fatimah. Lagi-lagi Ali hanya bisa pasrah karena dia tidak mungkin bersaing dengan Umar yang gagah perkasa. Tapi takdir kembali berpihak kepadanya. Umar mengalami nasib serupa dengan Abu Bakar.

Tapi saat itu Ali belum berani mengambil sikap, dia sadar dia hanya pemuda miskin. Bahkan harta yang dia miliki hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya.

Kepada Abu Bakar As Siddiq, Ali mengatakan, "Wahai Abu Bakar, anda telah membuat hatiku goncang yang sebelumnya tenang. Anda telah mengingatkan sesuatu yang sudah kulupakan. Demi Allah, aku memang menghendaki Fatimah, tetapi yang menjadi penghalang satu-satunya bagiku ialah kerana aku tidak mempunyai apa-apa."

Abu Bakar terharu dan mengatakan, "Wahai Ali, janganlah engkau berkata seperti itu. Bagi Allah dan Rasul-Nya, dunia dan seisinya ini hanyalah ibarat debu-debu bertaburan belaka!"

Mendengar jawaban Abu Bakar, kepercayaan diri Ali kembali muncul untuk melamar gadis pujaannya saat teman-temannya sudah mendorong agar Ali berani melamar Fatimah.

Dengan ragu-ragu dia menghadap Rasulullah. Dari hadist riwayat Ummu Salamah diceritakan bagaimana proses lamaran tersebut.

"Ketika itu kulihat wajah Rasulullah nampak berseri-seri. Sambil tersenyum baginda berkata kepada Ali bin Abi Talib, 'Wahai Ali, apakah engkau mempunyai suatu bekal mas kawin?"

"Demi Allah," jawab Ali bin Abi Talib dengan terus terang, "Engkau sendiri mengetahui bagaimana keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak engkau ketahui. Aku tidak mempunyai apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang dan seekor unta."

"Tentang pedangmu itu," kata Rasulullah menanggapi jawaban Ali bin Abi Talib, "Engkau tetap memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di jalan Allah. Dan untamu itu engkau juga perlu untuk keperluan mengambil air bagi keluargamu dan juga engkau memerlukannya dalam perjalanan jauh. Oleh karena itu, aku hendak menikahkan engkau hanya atas dasar mas kawin sebuah baju besi saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Wahai Ali, engkau wajib bergembira, sebab Allah sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi!". Demikianlah riwayat yang diceritakan Ummu Salamah r.a.

Setelah segala-galanya siap, dengan perasaan puas dan hati gembira, dan disaksikan oleh para sahabat, Rasulullah mengucapkan kata-kata ijab kabul pernikahan puterinya,

"Bahwasanya Allah SWT memerintahkan aku supaya menikahkan engkau Fatimah atas mas kawin 400 dirham (nilai sebuah baju besi). Mudah-mudahan engkau dapat menerima hal itu."

Maka menikahlah Ali dengan Fatimah. Pernikahan mereka penuh dengan hikmah walau diarungi di tengah kemiskinan. Bahkan disebutkan Rasulullah sangat terharu melihat tangan Fatimah yang kasar karena harus menepung gandum untuk membantu suaminya.

Dari kisah di atas kita tau, bahwa perlu bertahun-tahun bagi ali untuk memantaskan diri menjadi pendamping hidup Fatimah Azzahra, bahkan Ali mencoba mengikhlaskan bila pada kenyataannya kelak Fatimah memang bukan jodohnya.

Namun itulah takdir, kita tak akan tau dengan siapa kita menempuh hidup kelak. Kita tau bahwa jodohmu cerminan dari dirimu. Ikhwahfillah menikah tak semudah mengatakannya, oleh karena itu perlu waktu yang lama untuk kita mempersiapkannya.

So untuk yang masih kebelet nikah tapi merasa dirinya belum pantas atau siap, masih banyak waktumu untuk mempersiapkan diri, jangan hanya mememikirkan kenikmatan setelah menikah, tapi perjuanganmu akan lebih berat ketika kamu menikah kelak.

Jangan iri melihat temanmu yang dengan usia yang masih muda sudah memilih jalan untuk menikah, karena itulah takdir mereka. (dailymoslem via hipwee)
Thursday, April 7, 2016

Siswi SMA yang Catut Nama Irjen Arman Depari Diburu Polisi Medan!

Siswi SMA yang Catut Nama Irjen Arman Depari Diburu Polisi Medan!
Siswi SMA yang Catut Nama Irjen Arman Depari Diburu Polisi Medan!

Kejadian berawal dari Siswi SMA yang berkonvoi di Jalan Sudirman, Medan saat usai UN hari terakhir Rabu (6/4/2016). Tak terima ditilang lantas salah satu siswi SMA mengancam polwan yang hendak menilangnya dengan ancaman penurunan jabatan dan mengatakan bahwa ia anaknya Arman Depari.

“Oh iya oke kalau mau dibawa. Tapi siap-siap kena sanksi turun jabatan ya. Aku pun punya deking (backing). Ku tandai ibu, Aku ini anak Arman Depari,” ujar pelajar putri itu dengan nada tinggi kepada petugas, Rabu (6/4/2016).

Saat wartawan konfirmasi lagi, apakah ia benar anak Deputi Bidang Pemberantasan BNN Irjend Arman Depari, ia tidak menjawab, hanya diam dan menutup wajahnya.
Usai ribut-ribut Ipda Perida membiarkan para siswi tersebut pergi.

Deputi Bidang Pemberantasan BNN Irjen (Pol) Arman Depari membantah siswi yang memarahi Polwan Ipda Perida Panjaitan di Medan Sumatera Utara adalah putrinya.
“Anak saya tidak ada perempuan, yang diberitakan itu bukan anak saya. Tiga orang anak saya laki-laki dan tinggal di Jakarta semua,” kata Arman ketika dikonfirmasi Tribunnews, Rabu (6/4/2016) malam.

Arman Dapari mengatakan dia sudah meminta polisi di Medan untuk menelusuri siapa siswi SMA yang mecatut namanya itu.

“Saya sudah telepon Polrestas Medan untuk klarifikasi dan telusuri,” kata mantan Kapolda Provinsi Kepulauan Riau ini.

Ditanya apakah ada upaya hukum terhadap siswi SMU itu?
“Saya belum berpikir ke ranah hukum, namun yang saya bisa pastikan itu tidak benar,” kata dia.

Semoga menjadi peringatan bagi kita semua, jangan lupa bagikan info ini ya...

Sumber : http://channel40s.com/
Baca Juga :

Ssttt, Ternyata Gus Dur Sempat Prediksi Jokowi Jadi Presiden

Ternyata Gus Dur Sempat Prediksi Jokowi Jadi Presiden
Ternyata Gus Dur Sempat Prediksi Jokowi Jadi Presiden

Joko 'Jokowi' Widodo menjadi Presiden Republik Indonesia yang ketujuh menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Rupanya mantan Presiden Abdurahman Wahid atau Gus Dur telah memprediksi Jokowi akan menjadi Presiden RI selanjutnya.

Hal itu diungkapkan Koordinator Gusdurian Jawa Tengah, Husein Syifa, seperti dikutip situs NU Online. Saat itu ada pertemuan antara Gus Dur dengan sejumlah tokoh agama di Solo pada 8 Januari 2006. Sebelum menyampaikan orasi, Gus Dur sempat mampir ke Loji Gandrung, rumah dinas Wali Kota Solo.

Pertemuan itu untuk melakukan dialog dengan para tokoh di antaranya KH Moeslim Rifa’i Imampuro (Mbah Liem), dan Jokowi yang ketika itu baru sekitar 6 bulan menjabat Wali Kota Solo. Dalam sebuah diskusi ringan yang melibatkan banyak tokoh tersebut, tiba-tiba Mbah Liem menepuk pundak Gus Dur sambil bertanya, “Gus,sampeyan ingin jadi presiden lagi, ta?”.

Mboten ngaten (tidak begitu), Mbah,” jawab Gus Dur seperti ditirukan Husein.
Kemudian Gus Dur melanjutkan perkataanya. “Siapapun yang dikehendaki rakyat, termasuk Pak Jokowi ini, kalau dia jadi Wali Kota yang bagus, kelak juga bisa jadi presiden,” kata Gus Dur. Saat itu, Jokowi hanya tersenyum saja menanggapi ucapan Gus Dur.

Semoga bermanfaat, jangan lupa bagikan info ini ya...
Sumber : republika.co.id
Baca Juga :

Masya Allah....Jerman Akan Jadi Negara Berpenduduk Muslim Terbesar di Eropa

Masya Allah....Jerman Akan Jadi Negara Berpenduduk Muslim Terbesar di Eropa
Masya Allah....Jerman Akan Jadi Negara Berpenduduk Muslim Terbesar di Eropa

Ketika banjir pengungsi Timur Tengah yang tiba di Eropa surut, dan para pencari suaka akan menetap di rumah baru mereka, Jerman tiba-tiba akan menjadi negara dengan penduduk Muslim terbesar.

Kedatangan begitu banyak warga Suriah yang melarikan diri dari perang saudara di negara mereka, secara tidak langsung mengubah wajah Islam di Jerman. Sampai saat ini sendiri, Jerman masih didominasi oleh warga Turki yang pertama kali datang sebagai pekerja tamu pada tahun 1960-an.

Sementara pengungsi dari Afghanistan, Irak dan negara-negara Muslim lain tiba, Suriah membentuk satu kontingen terbesar yang diperkirakan sekitar 45 persen, dan memiliki kesempatan terbaik dari yang akan diberikan suaka politik di sana.

Dampak jangka panjang dari Jerman tidak akan seperti Inggris atau Perancis, karena memiliki tradisi mengambil imigran dari bekas koloni. Banyak pengungsi yang masih berjuang melalui sejumlah masalah, seperti belajar bahasa dan mendapatkan pekerjaan. Jumlah orang yang akan mengikuti mereka juga belum diketahui.

Beberapa kecenderungan yang muncul, meskipun Jerman akrab dengan minoritas Muslim, tetap ada alasan untuk harapan dan kekhawatiran. Perubahan pertama yang terjadi sudah pasti adalah jumlah. "Kami tiba-tiba bisa memiliki lima juta Muslim," kata Thomas Volk, seorang ahli Islam di Konrad Adenauer Foundation.

Prancis kini memiliki populasi Muslim terbesar di Eropa dengan lima juta orang, diikuti oleh Jerman dengan sekitar empat juta. Tapi, Jerman sendiri memperkirakan 800.000 pengungsi akan datang tahun ini, yang sebagian besar dari mereka adalah Muslim.

"Tren ini akan terus berlanjut. Ini tidak akan berhenti secara mendadak pada 1 Januari 2016," tambah Volk. Selain itu, sebagian besar adalah laki-laki dewasa muda, sehingga jumlahnya akan meningkat lebih lanjut ketika mereka menetap dan membangun keluarga.
Semoga bermanfaat, jangan lupa bagikan info ini ya......
Sumber : http://www.republika.co.id/
Baca Juga :